Beginilah Cara Menyikapi Mimpi Baik dan Mimpi Buruk

- Sabtu, 9 Juli 2022 | 06:30 WIB
Ilustrasi (umma.id)
Ilustrasi (umma.id)

الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنَ اللهِ، وَالرُّؤْيَا السَّوْءُ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَمَنْ رَأَى رُؤْيَا فَكَرِهَ مِنْهَا شَيْئًا فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسَارِهِ، وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، لَا تَضُرُّهُ وَلَا يُخْبِرْ بِهَا أَحَدًا، فَإِنْ رَأَى رُؤْيَا حَسَنَةً، فَلْيُبْشِرْ وَلَا يُخْبِرْ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ

Mimpi baik itu dari Allah dan mimpi buruk itu dari setan. Barangsiapa yang bermimpi buruk, maka meludahlah ke arah kiri dan memohonlah perlindungan pada Allah dari setan, maka mimpi itu tidak akan membahayakannya dan jangan ceritakan (mimpi itu) pada siapa pun. Jika kalian bermimpi baik, maka berbahagialah dan jangan ceritakan kecuali pada orang yang juga turut menyukainya” (HR Muslim) Dari dua hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang bermimpi baik, maka ia dianjurkan untuk melakukan tiga hal. Memuji kepada Allah dengan mengucapkan Alhamdulillah.

Merasa bahagia atas mimpi tersebut. Tidak menceritakan mimpi itu kecuali pada orang yang juga menyukainya. Dalam kitab Mirqah al-Mafatih, Syekh ‘Ali bin Muhammad al-Qari menafsirkan redaksi “Orang yang juga menyukainya” dengan terkhusus pada para ulama’, orang-orang shalih dan para kerabat. (Syekh ‘Ali bin Muhammad al-Qari, Mirqah al-Mafatih, juz 7, hal. 2917). Sehingga hendaknya orang yang telah mengalami mimpi yang baik, agar tidak menceritakan mimpinya kecuali pada orang yang masuk dalam bagian salah satu ketiga sifat tersebut. Sebab dikhawatirkan mimpi yang dialaminya—jika diceritakan pada orang yang salah—justru akan menimbulkan fitnah serta rasa iri dengki yang malah akan membahayakan dirinnya sendiri. Dapat disimpulkan, hendaknya seseorang yang mengalami mimpi buruk untuk melakukan lima hal yang telah disebutkan di atas. Menurut Imam Nawawi, Allah menjadikan lima hal tersebut sebagai sebab selamatnya seseorang atas hal buruk yang merupakan implikasi dari mimpi yang dialaminya, seperti halnya Allah menjadikan sedekah sebagai sebab terjaganya harta yang dimiliki oleh seseorang.

Sedangkan ketika seseorang bermimpi sesuatu yang baik dan disukainya, maka hendaknya ia melakukan tiga anjuran yang telah disebutkan di atas, hal tersebut tak lain agar mimpi itu betul-betul terjadi dan mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengalaminya. (Syekh Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, Juz 12, Hal. 371). Wallahu a’lam.

 

Halaman:

Editor: Lia Amelia Martin

Sumber: Islam.nu.or.id

Tags

Terkini

X